Search Engine

Memuat...

Sabtu, 15 Januari 2011

INGAT… ISTRI DARI LOT!

Mengingat ancaman akan adanya malapetaka dunia, kita harus yakin, bahwa tidaklah cukup apabila hanya memalingkan diri dari apa yang nampaknya dosa. Persoalannya lebih rumit. Tidak salah kalau Kristus berkata, bahwa kita harus di bebaskan dari semua ikatan-ikatan dan lekatan-lekatan yang palsu. Dapat dilihat dari nasib istri Lot yang mengejutkan. Padanya dijanjikan bantuan oleh para malaikat, seorang malaikat bahkan memegang tangannya dan menghantarnya keluar dari kota sebelum penghancuran terjadi. Allah berkehendak menyelamatkan dia, tetapi ia telah binasa, berubah menjai tiang garam. Apabila Kristus berkata-kata kepada murid-muridNya mengenai Akhir zaman, maka Dia berkata demikian juga kepada kita: “Ingat Istri Lot”, (Lukas 17:32).
Kita sedang diancam dengan hujan api, yang tak dapat dibandingkan dengan api dan belerang yang turun diatas Sodom dan Gomora. Apakah yang dapat kita pelajari dari nasib istri Lot? Yesus memberikan kepada kita penjelasan sebagai berikut didalam kitab Lukas 17:33, “Barangsiapa yang berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya”. Sesungguhnya ia telah kehilangan nyawanya, sebab ia memegang erat-erat hidupnya dan apa saja yang berarti baginya. Mengingat akan adanya bencana yang mengancam, sangat penting untuk kita memutuskan sama sekali semua ikatan-ikatan dengan dunia, dengan semua yang berarti hidup bagi kita, apabila kita hendak menyelamatkan nyawa kita.
Dalam peristiwa istri Lot, ia tidak mematahkan hubungan itu sebelumnya. Secara manusia dapat di terima, bahwa ia membalikkan diri sekali lagi. Mungkin mengingat rumah dan miliknya dan khawatir akan kehidupan anak-anak menantunya yang tertinggal di belakang. Lalu mengapa ia menerima hukuman yang dahsyat itu? Mati dan bukan di selamatkan dari kebinasaan? Jawabannya adalah karena ia bertindak tanpa menghiraukan perintah Allah dan kehendakNya. Apabila Allah memberikan suatu perintah, gimana respon kita kepada Allah ketika kita mendengarnya? mentaatiNya atau tidak.. Tuhanlah yang memerintahkan mereka melalui para malaikat, “Jangan menoleh kebelakang atau berhenti dimanapun dalam lembah ini” (Kejadian 19:17). Tetapi ia tidak dapat melepaskan diri dari ikatan keluarga, dan harta miliknya. Mungkin ia menyakinkan diri sendiri, sebagaimana sering kita perbuat dalam keadaan yang sama dengan kita, bahwa yang menyebabkan ia berpaling adalah kasih sayangnya terhadap anak-anak menantunya, atau terhadap harta milik yang Tuhan pernah karuniakan kepadanya. Namun Allah sama sekali tidak perduli dengan alasan-alasan yang saleh itu, yang nampaknya akan membenarkan tindakan-tindakan diri sendiri. Allah hanya mengajukan satu pertanyaan kepada kita: “Apakah engkau bertindak sesuai dengan kehendak dan perintahKu, atau apakah engkau mengikuti kehendak dan keinginanmu sendiri?”. Tidak peduli betapa indah nampaknya jalan kita, tetapi itu semua adalah salah jika bertentangan dengan kehendak dan perintah Allah. Sebab dalam pandangan Allah hanyalah ketaatan kita yang berlaku. Ketaatan itu merupakan bukti bahwa kasih kita hanya mencari Tuhan saja.
Pada waktu penghakiman, yang dapat diselamatkan hanyalah mereka yang sanggup menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi keselamatannya, yaitu perbuatan kita yang selalu mengandalkan kehendak dan keinginan diri sendiri. Apabila Yesus berbicara kepada murid-muridNya untuk mengingat istri Lot, Dia khusus menyinggung perintahNya: “Lepaskanlah hidupmu!”. Dengan perkataan ini Dia bermaksud agar kita melepaskan semua yang kita gemari dan pegang erat-erat.
Bagaimana dapat kita ceritakan apabila kita terikat pada sesuatu dan bagaimana dapat kita mengenalnya? Hal itu tidak sukar, karena ayat Alkitab berkata: “Dimana hartamu, disitu hatimu”. Kita harus bertanya pada diri sendiri: “Apakah yang pertama-tama aku ingat pada waktu bangun pagi? Apakah yang aku pikirkan pada waktu pergi tidur? Apa yang mengkhawatirkan hingga aku tidak dapat tidur? Apa yang kukerjakan dengan waktuku yang sisa dan dengan uangku? Adakah aku kehilangan sesuatu yang sangat kesayangi? Misalkan, teman-teman, kesukaan, uang, harta, benda pusaka, pekerjaanku, reputasiku, popularitasku, atau hak-hakku?”.
Perintah Yesus: “Lepaskanlah hidupmu! Serahkanlah! Biarkanlah!” merupakan perintah-perintaNya berdasarkan kasih, kata Yesus tahu, bahwa hanya apabila kita kehilangan hidup kita, maka barulah tersedia tempat bagiNya, dan pada waktu itu pula barulah Dia dapat membagikan hidupNya yang suci yang akan menopang dan memimpin kita. Apabila kita berpegang teguh kepada berhala kita, itu membuktikan bahwa kita tidak mengasihi Allah diatas segala sesuatu, bahwa kita tidak bersedia hidup bergantung sepenuh kepadaNya, sebagai rasa terima kasih untuk cinta kasihNya. Karenanya, salah kita sendiri apabila kita dipisahkan daripadaNya dan dari sumber kehidupanNya dan dari kasihNya yang menyelamatkan.
Penting untuk mengenal waktu dimana kita sedang hidup. “Jagalah dirimu supaya hatimu jangan disesatkan” (Lukas 21:34), sebab engkau ingin mengikut jalanmu dan keinginanmu sendiri, sehingga engkau melawan kehendak Allah yang dapat berarti penderitaan atau sesuatu yang merugikan engkau. “Berjaga-jagalah! Jangan biarkan Aku datang menjumpai engkau tidak bersedia sedang berpesta pora, bermabuk-mabukan, sibuk dengan persoalan hidup ini, sama seperti orang dunia. Berjaga-jagalah senantiasa!” (Lukas 21:34-36)
Biasanya kita tidak mengenali adanya ikatan-ikatan, sampai sudah terlambat pada saat dimana ikatan itu menjerat kita kuat-kuat dan mengakibatkan didalam kita kematian badani dan rohani. Dengan alasan itu Yesus berulang kali memperingatkan kita untuk senantiasa waspada dan berjaga-jaga. Yang berarti memohon akan terangNya, karena dengan demikian akan jelas bagi kita dimana letak bahaya itu. Dengan kasihNya yang mendalam, Yesus rindu menolong kita selama masa kesukaran. Itulah sebabnya mengapa Dia memohon dengan sangat kepada kita dalam menghadapi malapetaka yang akan datang.


“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan ANAK MANUSIA”
Lukas 21:36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut

Artikel Populer